![]() |
| Foto : Istimewa |
LOMBOK TIMUR – Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Timur memperkuat upaya penanganan kasus gizi buruk melalui kegiatan orientasi tata laksana gizi buruk dengan pendekatan Komunikasi Antarpribadi (KAP). Kegiatan yang berlangsung selama dua hari tersebut menyasar tenaga pelaksana gizi dari 36 puskesmas di Kabupaten Lombok Timur.
Ketua Tim Kerja Gizi Dinas Kesehatan Lombok Timur Haerul Hadi menjelaskan, kegiatan ini bertujuan meningkatkan keterampilan tenaga pelaksana gizi dalam melakukan pendekatan kepada masyarakat, khususnya keluarga yang memiliki balita dengan masalah gizi.
Menurutnya, pendekatan komunikasi yang tepat sangat penting untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam pemenuhan gizi sekaligus meningkatkan efektivitas penanganan kasus gizi buruk di tingkat komunitas.
“Dengan dibekalinya teman-teman tenaga pelaksana gizi dengan keterampilan KAP, harapannya mereka bisa melakukan pendekatan di tingkat komunitas masyarakat sehingga terjadi perubahan dalam tata laksana gizi buruk,” jelasnya, rabu ( 14/10/2026 ).
Ia menegaskan, penanganan gizi buruk menjadi salah satu intervensi penting untuk mencegah stunting. Karena itu, setiap kasus yang ditemukan harus mendapatkan penanganan sesuai standar pelayanan kesehatan yang berlaku.
Dalam kegiatan tersebut, peserta tidak hanya mendapatkan pembekalan materi, tetapi juga melakukan praktik langsung terhadap balita yang teridentifikasi mengalami masalah gizi. Sasaran praktik ditentukan melalui proses penjaringan di posyandu, kemudian dilanjutkan dengan skrining serta verifikasi status gizi oleh petugas puskesmas.
Data awal sasaran diperoleh melalui aplikasi Sistem Informasi Gizi dan Kesehatan Keluarga (SIGIZI KESGA). Berdasarkan data tersebut, petugas melakukan verifikasi dan konfirmasi untuk memastikan kondisi status gizi balita yang menjadi sasaran penanganan.
“Dari hasil penilaian di aplikasi, kemudian kita lakukan verifikasi dan konfirmasi status gizi. Sasaran ini berdasarkan hasil penjaringan dari layanan posyandu,” ungkap Haerul.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa penanganan gizi buruk merupakan bagian dari pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan. Setiap kasus yang ditemukan harus ditangani sesuai ketentuan, dengan target seluruh kasus gizi buruk yang teridentifikasi memperoleh tata laksana.
Selain memperkuat kapasitas petugas, Dinas Kesehatan Lombok Timur juga menyiapkan dukungan makanan terapeutik siap saji atau Ready-to-Use Therapeutic Food (RUTF) untuk membantu penanganan balita dengan gizi buruk yang memenuhi kriteria perawatan rawat jalan.
Menurutnya, dukungan RUTF tersebut berasal dari Kementerian Kesehatan dengan pendampingan UNICEF. Produk berbentuk pasta padat gizi itu diharapkan menjadi salah satu instrumen pendukung dalam tata laksana gizi buruk.
“Ini makanan terapi siap saji dalam bentuk pasta yang padat gizi. Logistiknya sedang dipersiapkan untuk mendukung tata laksana kasus gizi buruk rawat jalan,” katanya.
Ia menambahkan, persoalan gizi tidak hanya berkaitan dengan balita, tetapi mencakup seluruh siklus kehidupan, mulai dari remaja, ibu hamil, hingga lanjut usia. Oleh karena itu, kesadaran masyarakat dalam memanfaatkan layanan kesehatan di posyandu dan puskesmas menjadi hal yang sangat penting.
Khusus bagi ibu hamil dan keluarga yang memiliki balita, pemantauan kondisi kesehatan secara berkala diperlukan agar permasalahan gizi dapat ditemukan dan ditangani sedini mungkin.
Di sisi lain, integrasi pencatatan dan pelaporan program Makan Bergizi Gratis (MBG) ke dalam aplikasi SIGIZI KESGA diharapkan dapat membantu petugas menganalisis keterkaitan penerimaan program dengan kondisi status gizi sasaran.
“Dengan adanya laporan yang masuk, kita bisa melakukan analisis karena aplikasi ini berbasis data individu. Kita juga bisa melihat sasaran yang menerima MBG dan memantau status gizinya,” jelasnya.
Untuk mendukung hal tersebut, keterlibatan kader posyandu dan petugas di tingkat bawah dinilai penting, terutama dalam memastikan pelaporan jumlah penerima manfaat berjalan aktif dan akurat.
Melalui penguatan kapasitas tenaga gizi, dukungan intervensi makanan terapeutik, serta optimalisasi pencatatan dan pemantauan status gizi, Dinas Kesehatan Lombok Timur berharap penanganan kasus gizi buruk semakin efektif dan angka stunting dapat ditekan.
Upaya tersebut membutuhkan dukungan seluruh pihak, mulai dari tenaga kesehatan, kader posyandu, pemerintah, hingga keluarga dan masyarakat agar setiap balita yang mengalami masalah gizi memperoleh penanganan secara tepat dan tidak terlambat.
Kegiatan yang antusias diikuti semua pihak yang terkait :


