![]() |
| Foto : Tampak Depan Puskesmas Rensing |
LOMBOK TIMUR -Polemik pelayanan Puskesmas Rensing, Kecamatan Sakra Barat, semakin menyita perhatian publik. Ketika sejumlah pengunjung memberikan rating bintang satu dan mengeluhkan pelayanan, justru muncul rentetan rating bintang lima dalam waktu yang berdekatan pada Google Maps. Sabtu (05/09/2026).
Dalam tangkapan layar ulasan yang beredar, sejumlah pengguna memberikan penilaian satu bintang. Keluhan yang disampaikan pun bukan sekadar komentar singkat.
Salah satu pengunjung menyebut pelayanan Puskesmas Rensing “sangat buruk” dan memberikan kritik keras terhadap petugas. Pengunjung lainnya mengaku kecewa dengan sikap petugas saat memberikan pelayanan dan menilai pelayanan tidak profesional.
Ada pula ulasan yang mempertanyakan kualitas pelayanan hingga aspek kejujuran dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Namun, yang kemudian menjadi sorotan adalah kemunculan sejumlah rating bintang lima dalam waktu yang relatif berdekatan. Dalam tangkapan layar yang beredar, beberapa akun tercatat memberikan bintang lima dengan penanda waktu yang hampir bersamaan, disertai komentar positif seperti “pelayanan baik, petugas ramah”, “bagus dan bersih” hingga “sangat rekomendasi.”
Kontras antara keluhan bintang satu dan kemunculan rating bintang lima tersebut sontak memunculkan pertanyaan publik.
Apakah rating bintang lima tersebut benar-benar diberikan secara spontan oleh masyarakat yang merasa puas, atau terdapat upaya tertentu untuk mendongkrak citra Puskesmas Rensing di Google Maps?
Pertanyaan tersebut semakin mengemuka apabila terdapat keterkaitan antara pemberi rating dengan pihak internal Puskesmas. Namun, hal itu tentu membutuhkan pembuktian dan klarifikasi dari pihak terkait.
Jika nantinya terbukti terdapat pihak internal yang sengaja mengarahkan atau memobilisasi pemberian rating untuk membangun citra positif institusi, persoalannya tidak lagi sebatas soal angka bintang di Google Maps.
Hal tersebut dapat menjadi persoalan serius menyangkut kredibilitas pelayanan publik, transparansi, serta kejujuran dalam membangun kepercayaan masyarakat.
Dinas Kesehatan Lombok Timur pun patut memberikan perhatian terhadap persoalan tersebut. Pemeriksaan semestinya tidak berhenti pada melihat tinggi atau rendahnya rating, tetapi juga menelusuri substansi keluhan masyarakat serta pola munculnya ulasan dan rating yang dinilai janggal.
Sebab, rating di dunia maya dapat berubah dalam hitungan menit. Namun, pengalaman masyarakat ketika menerima pelayanan kesehatan merupakan sesuatu yang dirasakan secara langsung.
Jangan sampai bintang lima di layar justru berbanding terbalik dengan bintang satu yang diberikan masyarakat karena merasa kecewa.
Media ini telah berupaya melakukan konfirmasi kepada Kepala Puskesmas Rensing, Anggreni, terkait munculnya rating bintang lima tersebut serta berbagai keluhan masyarakat. Namun hingga berita ini diterbitkan, yang bersangkutan belum memberikan tanggapan.
Konfirmasi tetap terbuka dan akan dimuat sebagai bagian dari keberimbangan pemberitaan apabila pihak Puskesmas Rensing memberikan penjelasan terkait persoalan tersebut.
